Oleh: gunhc | 10 September 2010

Mudik

Mudik atau Pulang Kampung Halaman adalah fenomena unik yang “rasanya” hanya ada di Indonesia tercinta ini. Dikatakan unik karena terjadinya secara bersamaan, beramai-ramai pada ambil cuti dan bahkan pemerintah, perusahaan pada meliburkan pegawai/karyawannya.
Dalam kultur kemasyarakatan kita ini, yang namanya Silaturahmi kepada orang-tua, Saudara, teman-teman akan terasa lebih afdol bila bertemu langsung, bisa langsung sungkem (kepada orangtua) dan jabat erat tangan pada Saudara dan teman, menumpahkan segala rasa kangen yang setelah sekian lama tidak saling ketemu.

Pada saat sekarang ini, dimana teknologi komunikasi sudah jauh lebih maju, dimana fasilitas telepon terlebih selular, internet mobile sudah hadir hampir diseluruh pojok nusantara ini, namun tradisi mudik masih juga melekat erat dalam masyarakat kita, karena apa? selain rasa afdol tadi, juga karena takut dianggap kurang “sopan”. Sungkem ke orangtua kok hanya lewat telepon saja, atau bahkan yang sudah lebih maju lewat video chatting, hanya karena tidak bisa saling “bersentuhan”.

Andaikan, semua fasilitas tadi bisa mewakili “silaturahmi”, dan mudiknya tidak saat yang bersamaan (pas lebaran), tapi bisa digantikan saat-saat yang lainnya, sehingga fenomena migrasi penduduk (terutama) dari jakarta ke daerah tidak terjadi, tidak terjadi kenaikan harga-harga kebutuhan pokok, angkutan bus dan kereta, tidak ada yang nekad naik motor untuk pulang kampung yang kadang malah berakhir tragis.
Mudik kalau boleh saya menyimpulkan adalah salah satu sarana untuk menjujung tinggi budaya bangsa yang luhur, hormat-menghormati sesama, santun pada orangtua atau yang lebih tua, memiliki tenggangrasa antar sesama dll. Namun apa yang tercermin dari proses mudik tersebut?, pada angkutan umum, baik di bus atau kereta, apalagi pada jalan raya, cerminan budaya bangsa yang luhur kok tidak terlihat sama sekali, terjadi saling serobot, kalau perlu adu urat, yang merasa “besar” akan berlaku secara “superior” dan mengabaikan yang “kecil”, sehingga terjadi hal-hal yang berakhir tragis.
Akhir kata saya sampaikan Taqobbalallahu mina wa minkum, Minal Aidzin wal Faidzin Mohon maaf lahir dan bathin.


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.